'Kolektivisme' kini sebatas 'Koleksi'
Seperti judulnya, di artikel ini gua mau coba berbagi pengalaman sekaligus memberikan pandangan gua terhadap point yang punya esensi tinggi, tetapi sering kita acuhkan begitu aja. Satu per satu budaya masyarakat Indonesia semakin pudar. Gak bisa dipungkiri, statement ini gua berikan sebagai bagian dari pengalaman gua pribadi dan pengakuan orang lain yang tergolong sebagai senior, seperti yang diangkat dalam podcast "End Game" milik Pak Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan Indonesia.
Tak banyak masyarakat yang ingin tahu dengan topik ini. Alasannya klise. Terutama di era digital sekarang, "Berlomba siapa yang lebih cepat" menjadi salah satu kompetisi kehidupan saat ini.
Siapa yang lebih cepat mahir menguasai programming?
Siapa yang lebih cepat memahami materi kuliah?
Siapa yang lebih unggul di antara teman-teman satu kelasnya?
atau mungkin siapa yang bisa mendapatkan promosi jabatan dalam waktu sesingkat mungkin?
Asumsi masyakat mengenai hal itu menjadi salah satu aspek yang sering dikejar oleh setiap orang. Tujuaan simpel. Supaya lebih unggul daripada orang lain.
Sejujurnya, di saat tulisan ini dipublikasikan, asumsi "berlomba lebih cepat" itu juga mendominasi pikiran gua. Gua pengen punya gaji yang tinggi secepat mungkin, gua pengen lulus kuliah secepat mungkin, sampai gua pengen keliling dunia 1 tahun lagi.
Sebenarnya gua merasa risih dengan semua pikiran ini. Ujung-ujungnya, gua gak bisa fokus pada proses yang gua jalani, gua gak punya waktu untuk beristirahat serileks mungkin, dan lain sebagainya.
Biasanya gua setting waktu tidur gua harus 8 jam sehari. Ketika asumsi itu datang ke pikiran gua, yah sudah. Disitu gua merasa harus bangkit dan ujung-ujungnya waktu tidur gua jadi terganggu. Hingga akhirnya, gua tambah waktu tidur di siang hari selama 1 jam.
Itukah yang dinamakan produktif?
Yang ada malah "beban produktif"
Seringnya, kita selalu melihat sesuatu keluar dari zona kita sendiri. Banyak tulisan yang mendeskripsikan mengenai hal-hal yang bisa membangkitkan effort pembaca sesemangat mungkin.
"Kamu harus keluar zona nyaman kamu sendiri"
Gua sendiri bukan tipe orang yang mau begitu aja menerima statement tanpa disertai bukti yang valid. Satu sisi, sebagai masyarakat yang rasional kita memang dituntut untuk menguasai hal-hal yang di luar zona kita. Di sisi lain, kita juga dituntut untuk bisa menyesuaikan segala sesuatu pada porsinya masing-masing.
Kedua hal ini bertentangan bukan? Gimana kalau misalnya kita kombinasikan menjadi statement ini.
"Kamu harus keluar zona nyaman sesuai dengan kapasitas diri kamu sendiri". Menurut gua ini baru tepat. Tepat untuk orang-orang yang merasa tepat :)
Kita coba kembali pada topik mengenai krisis identitas.
Akhir-akhir ini kontribusi negara kita terhadap kasus peperangan yang terjadi antara Palestina dan Israel tergolong cukup baik (asumsi gua). Mulai dari bantuan biaya, pasokan makanan, akomodasi tempat tinggal, dan donasi-donasi yang dikumpulkan oleh orang banyak.
Mulai dari masyarakat sipil biasa, publik figur, influencer, hingga pemerintah, punya peran yang baik akan isu perang yang terjadi itu. Baik itu melalui jejaring online, maupun offline seperti galang dana yang kita lihat di beberapa lampu merah, sebisa mungkin sebagian masyarakat turut berkontribusi, sekecil apapun itu.
Nah, hal itu juga termasuk sebagai contoh kolektivisme yang terdapat di negara kita. Meskipun tidak ada interaksi sosial secara verbal, setidaknya masyarakat kita punya interaksi batin yang terintegrasi satu sama lain, yaitu "Ingin Membantu". Dengan visi tersebut, masyarakat membantu dengan caranya masing-masing. Mungkin itu berupa bantuan dana, broadcast di media sosial, wujud keprihatinan, atau lewat Doa.
Akan tetapi, penting untuk dipertanyakan, haruskah ada isu yang terjadi terlebih dahulu baru kita bergotong royong?
Benar bahwa kemampuan setiap masyarakat itu berbeda-beda, terutama dalam aspek finansial yang secara data didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
Dengan peran teknologi digital, memang semua hal semakin dipermudah. Tanpa disadari, interaksi sosial yang terjadi di masyarakat lama kelamaan semakin memudar. Benar bahwa terdapat ikatan batin di setiap diri masyakat, tetapi realisasi/action-nya masih sebatas niat semata.
Contoh kecilnya, di keluarga gua sendiri. Biasanya ada 1 hari setiap minggunya dimana kami berkumpul bersama untuk menonton TV, atau mungkin gotong royong. Selama satu tahun belakangan ini, gua merasa bahwa ada hal rutin yang terlupakan, yaitu waktu berkumpul bersama. Semakin jarang hubungan yang terdapat antar-anggota keluarga, sehingga timbul rasa segan satu sama lain. Gak bisa dipungkiri, semua adalah dampak dari gawai.
Kolektivisme yang seharusnya menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, seakan berubah menjadi sebuah "Koleksi". Esensinya tentu berbeda. Di abad 20, kita bisa melihat perjuangan rakyat dalam melawan penjajah, melawan amtenar pribumi yang mengeksploitasi negara kita sendiri, serta melawan pemerintah yang otoriter tanpa mempertimbangkan kebutuhan rakyatnya.
Sekarang? kita cuma melihat bahwasanya kolektivisme itu hanya menjadi sebuah koleksi.
Haruskah kita mencapai visi Indonesia maju 2045 dengan meniru negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, dan lainnya? Tentu tidak
Jika negara kita ingin mencapai visi tersebut, tentu harus dengan cara kita sendiri. Dengan mengangkat identitas "Kolektivisme" itu, kita bisa menjadi negara kita sendiri, bukan sebagai replika dari negara lain. Indonesia maju akan lahir sebagai negara yang memiliki citra personal yang baik dengan budaya khasnya.
Dengan demikian, melalui identitas gotong royong itu, negara kita punya ciri khas tersendiri, terutama dalam koneksi yang terjalin antarmasyarakat.
Yuk, kita gunakan koleksi itu kembali. Kita bangkitkan kembali esensi yang terkandung di dalamnya. Percaya bahwasanya ada masa depan yang baik untuk negara kita dalam 10-20 tahun ke depan.
Sekian dari artikel gua kali ini. Kurang lebihnya mohon maaf.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah berkunjung.
Sampai jumpa di blog berikutnya.


Tidak ada komentar