Sebobrok apasih kita?

Mendingan gua jalan dulu? atau langsung lari?

Mungkin artikel ini bakal menjadi artikel pertama gua yang mengandung filosofi di dalamnya. Sejauh ini, gua bersyukur banget bisa lahir di era yang berbasis digital. Ya, tentu ada baik buruknya juga sebenarnya. Era dimana kita bisa meraup pundi-pundi rupiah dengan modal laptop dan jaringan internet, era tatap muka virtual, kolaborasi virtual, travelling virtual, segala bentuk virtual lah. Di sisi lain, banyak hal yang mungkin masih tersembunyi serta di luar kesadaran kita sebagai pengguna media sosial.

Saat ini, banyak aplikasi yang kita yakini sebagai media untuk mengekspresikan diri, ternyata di luar itu semua, mereka ingin mengeksploitasi diri kita dengan cara yang halus. Mungkin teman-teman udah pada bisa menerka aplikasi yang gua maksud itu. Yappp benar, TicToc. 

Gua juga sebenarnya pengguna aplikasi ini, tetapi sebisa mungkin gua membatasi diri hanya untuk beberapa menit saja. Banyak sekali orang yang senang dan merasa terhibur saat mereka scrolling video di tictoc selama berjam-jam. Parahnya lagi, ada yang sampai lupa bahwasanya dia belum makan siang .. 

Bukan tanpa alasan, gua sendiri punya teman yang kegiatannya seperti itu. Disini, gua gak menyalahkan orang itu atau mungkin ingin merendahkannya. Tidak sama sekali

Gua cuma gak habis pikir, kenapa se-addicted itu dengan aplikasi ini. Ya memang untuk hiburan semata, tetapi kalau udah menghabiskan waktu 3-4 jam dalam sehari untuk aplikasi tersebut, rasanya ada sesuatu yang janggal.

Mungkin teman-teman bakal melawan hipotesis gua ini dengan "Game", seperti mobile legend, PUBG, freefire, dota, dan beragam permainan digital lain yang bahkan bisa menghabiskan waktu seharian.

Perlu diingat teman-teman, sesuatu yang membuat kita addicted dengan game itu adalah rasa cenderung ingin menang atau kurang puas. Kita coba sandingkan dengan tictoc. 

Sebagai pengguna aplikasi ini, sesering apasih teman-teman menemukan video-video terkait yang muncul di fyp kalian? Kalau gua sih, hampir setiap hari tictoc merekomendasikan video-video yang sebelum-sebelumnya kita liat.

Sebagian besar dari kita mungkin sudah kenal dengan yang namanya AI (Artificial Intelligence). Segala sesuatunya bakal berjalan secara otomatis seiring dengan retensi yang kita lakukan. Artinya, semakin sering kita menonton video dengan tema itu, maka akan semakin banyak juga rekomendasi video dengan tema yang sama di fyp kita. Akibatnya apa? Yappp benar, kita bisa lupa waktu.

Kalau kita berpikir sekitar 5-10 tahun ke depan, pernah gak sih muncul di pikiran teman-teman, aplikasi tictoc ini bakal gimana? Menurut gua sendiri, aplikasi ini bakal tetap berada di urutan teratas, tentu dengan tampilan yang berbeda pula.

Konsepnya gini. Selama beberapa tahun ke depan, selama kita menggunakan tictoc ini, seluruh aktivitas kita tentu akan direkam oleh mereka. Nah, dengan setiap data history yang ada, mereka akan gunakan data tersebut untuk menganalisis minat masyarakat dalam 5 tahun ke depan.

Contohnya, kita misalkan bahwa masyarakat Indonesia dominan atau lebih suka menonton video di tictoc tentang life-habbit. Disini gua coba mengasumsikan hal tersebut dengan salah satu statistik pemusatan data, yaitu mean (atau rata-rata). 

Dengan hasil analisis itu, aplikasi ini akan selalu update, baik itu dari tampilan yang disesuaikan, penyebaran video, atau mungkin bakal lebih canggih sampai tictoc berubah menjadi suatu e-commerce. As soon as possible menurut gua.

Secara logika, mereka udah punya data tentang konten apa saja yang disukai masyarakat di suatu negara, apa yang mereka butuhkan saat ini, dan seberapa candu mereka dengan ini semua.

Mungkin cukup sampai disini kita membahas atau me-review aplikasi ini (-_-). Kita coba telaah filosofi dari judul yang gua maksud di awal.

Jalan dan lari adalah dua fase kejadian yang berbeda, tetapi punya awalan yang sama, yaitu diam. Setiap gerakan itu tentu dimulai dari kondisi tubuh yang diam/tidak bergerak.

Kita coba ambil kondisi nyata yang sedang kita alami saat ini, yakni canggihnya teknlogi yang sedang berkembang saat ini. 

Sejauh ini, teman-teman merasa sedang berjalan atau berlari, atau bahkan masih diam membisu? Gua sendiri merasa bahwasanya gua sedang di fase berjalan mengikuti arus teknologi yang sedang berkembang. Alasannya simpel, kapasitas otak gua yang cukup kecil belum mampu menyerap semua hal kompleks tentang teknologi.

Gua cuma bisa mengoperasikan komputer. Padahal, anak-anak di luar negeri, sudah dididik untuk merancang komputer pribadi dengan pengetahuan mereka sendiri. Canggih gak tuh? Hal itu sebenarnya gua ambil dari sebuah jurnal internasional yang mengungkapkan seberapa penting pengetahuan digital di era sekarang ini.

Lain dari itu, gua juga merasa bahwasanya negara mencoba untuk "berlari" mengikuti zaman yang ada, tetapi saat sini masih "berjalan" sangat lambat. 

Kita tahu bahwasanya negara lain udah melakukan masifikasi jaringan internet 5G terlebih dahulu. Akan tetapi, di negara kita sendiri, 5G baru saja menjadi wacana yang mudah-mudah bisa terealiasi. Padahal, sebenarnya, masih banyak daerah di Indonesia yang belum merasakan jaringan internet 4G. 

Di satu sisi, negara kita perlu mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Akan tetapi, di sisi lain, negara kita juga seharusnya memerhatikan kondisi daerah-daerah yang statusnya masih terbengkalai.

Mungkinkah visi Indonesia Maju 2045 bakal tercapai? Gua bakal menjawab Sangat Mungkin. 

Akan tetapi, masih cukup banyak hal-hal yang harus dibenahi dulu dengan menggunakan identitas bangsa kita sendiri. Satu sisi kita bisa menggunakan negara lain sebagai referensi. Di sisi lain, seharusnya kita menggunakan "identitas" bangsa kita sendiri untuk mencapai visi tersebut.

Salah satunya adalah KOLEKTIVISME. 

Rasa bahu-membahu satu sama lain, sangat mungkin untuk melahirkan sumber daya manusia yang mapan, baik itu secara finansial, maupun secara batin. Dalam kondisi kolektivitas yang tinggi, aspek terkecil sekalipun tentu punya peluang yang besar untuk sampai kepada ekspektasi awal kita.

Misal, dalam sebuah desa, gotong royong setiap minggu menjadi rutinitas yang ada. Aspek terkecil, seperti kekeluargaan, kerja sama, kebahagiaan, bisa menjadi sesuatu yang tecermin di wajah setiap masyarakat. Dengan demikian, aspek yang besar seperti kebanjiran, kemiskinan, kemelaratan, dan lain sebagainya bisa teratasi dengan sendirinya. 

Meski tergolong cukup sulit, kalau kita punya visi yang sama, tentu setiap pekerjaan bakal terasa lebih ringan. Tidak muluk-muluk soal hasil, yang terpenting adalah usaha terlebih dahulu. 

Dengan demikian, hasil yang kita harapkan bakal datang dengan sendirinya. Sans aja..

 

Itulah beberapa hal yang bisa gua bagikan lewat artikel ini. Harapannya kita bisa bersama-sama berkontribusi untuk negeri dimulai dari hal yang terkecil. Salah satunya dengan membagikan konten-konten positif yang bisa membuka wawasan masyarakat luas. 

Buat teman-teman yang sudah berkunjung, terima kasih banyak. 

Sampai jumpa di blog selanjutnya..



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.