Kesetaraan Gender: Hilangkan Patriarki!
Isu tentang keseteraan gender mungkin sudah seperti makanan sehari-hari kita. Begitu banyak media massa yang menyoroti konflik rumah tangga, pemaksaan kehendak terhadap lawan jenis, belenggu kebijakan dalam rumah tangga, hingga isu pemerkosaan. Belum lagi konten-konten di media sosial yang sebenarnya hanya sebuah lelucon, tetapi secara tersirat mendeskripsikan konflik kesetaraan gender, terutama dalam rumah tangga.
Kalau dipikir-pikir, isu kesetaraan gender ini seperti gak ada habis-habisnya. Banyak masyarakat yang berasumsi bahwasanya laki-laki memang punya "privilege" untuk mendominasi segalanya. Mulai dari hubungan personal (seperti dalam rumah tangga), hingga ruang lingkup yang lebih besar (seperti jabatan tertinggi dalam perusahaan, partai politik, dan lainnya).
Apakah karena laki-laki selalu dihadapkan dengan pekerjaan yang cenderung berat?
Apakah karena tugas perempuan hanya mencuci piring, menyapu, dan lain-lain?'
atau karena laki-laki yang cenderung punya rasa gengsi ketika harus diperintah oleh perempuan?
Seorang pakar sosiologi, August Comte, dalam Helen A. Moor, menyatakan bahwasanya wanita secara sosiologi dibatasi perannya pada lingkup keluarga dan bersifat subordinat. Jika dilihat dari segi konstitusional, posisi perempang bersifat inferior terhadap laki-laki. Sebagai subordinat, perempuan didefinisikan sebagai subjek yang punya partisipasi kecil di luar peran domestiknya, serta menutup setiap potensi yang ia miliki.
Ringkasnya, August Comte memiliki streotip bahwa perempuan akan selalu dalam keadaan "terpenjara". Meskipun ia punya intelektual yang baik, tetap saja perannya harus selalu di bawah laki-laki. Selain itu, perempuan juga harus menerima kenyataan bahwa ia dibebani seluruh pekerjaan domestik yang cukup berat.
Patriarki
Patriarki didefinisikan sebagai sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada jabatan kekuasaan yang tertinggi dan mendominasi dalam peran kepemimpinan, baik itu dalam ranah personal, maupun dalam ranah jabatan dalam pekerjaan. Ideologi budaya patriarki sebagai pola perilaku sebagian masyarakat ditujukan untuk merefleksikan dominasi laku-laki terhadap perempuan.
Just for information, karena gua masih seorang mahasiswa, gua gak bisa berikan contoh budaya patriarki dalam rumah tangga secara utuh. Alasannya, dalam rumah tangga, gua cuma bisa menjadi orang ketiga dalam keluarga gua sendiri. Otomatis, yang gua punya cuma pengalaman saat gua melihat ibu gua diperintah. Lain dari itu, gua gak tau isu apa yang terjadi di belakangnya. Oleh karena itu, gua bakal coba berikan contoh tentang budaya patriarki dalam organisasi.
Gua sebenarnya bukan tipikal orang yang "sangat aktif" dalam organisasi di dalam kampus. Jadi, karena posisinya masih kuliah online, gua mutusin untuk ikut sebuah organisasi di luar kampus. Gua bergabung dalam sebuah tim yang tujuannya untuk encourage siswa SMA/K tentang perguruan tinggi. Kebetulan, di tahun 2020 kemarin, yang terpilih menjadi ketua adalah seorang perempuan.
Tim itu terdiri sekitar 70 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Alhasil, gua melihat bahwa orang-orang yang aktif didominasi oleh perempuan. Dari 20-an laki-laki yang ada, hanya 2 orang saja yang aktif dalam grup. Selebihnya, cuma jadi "objek", termasuk gua sendiri :)
Gua sadar bahwa apa yang ada dalam mindset gua saat ini, gak jauh beda dari budaya patriarki ini. Rasa gengsi, merasa dibawahi, keinginan untuk berkuasa, stereotip negatif terhadap perempuan, yang gua sadari gak ada manfaatnya di hidup gua. Malah gua sendir merasa rugi atas keputusan gua pribadi.
Contoh lain ada dalam sektor profesi. Biasanya sering terjadi maskulinasi profesi pekerjaan, di mana seorang laki-laki akan merasa "dibawahi" saat punya pimpinan seorang perempuan. Konstruksi tentang identitas gender ini sudah berakar kuat dan hampir gak bisa diminimalisir. Penyebabnya adalah tekanan sistem nilai yang berlapis-lapis, sistem global yang mengikis peran tradisional seorang perempuan, dan lain sebagainya.
Lalu, gimana cara kita menghindari budaya patriarki?
Kalau gua sendiri, karena gua seorang laki-laki, sebisa mungkin gua menggunakan dan menempatkan diri gua sebisa mungkin untuk melakukan setiap pekerjaan sendiri. Maksudnya, gua meminimalisir kehendak diri untuk "memerintah" orang lain.
Sebenarnya, sebuah budaya itu lahir oleh karena kebiasaan yang dilakukan dalam rentetan waktu yang kontinu. Selalu berulang dengan siklus yang sama. Akibatnya, budaya itu mengakar kuat di dalam diri seseorang.
Ya, meskipun kadang gua harus menyuruh adik gua untuk mengambil sesuatu, tetapi dengan munculnya pola pikir ini, gua merasa bahwasanya gua harus meminimalisir hal tersebut. Ujung-ujungnya, gak ada satupun pihak yang diuntungkan. Sebagai pihak yang menyuruh, ia akan merasa seperti seorang bos dengan jabatan yang lebih tinggi dan sebagai pihak yang disuruh, ia akan dibebani sebuah tanggung jawab yang notabenenya harus ia selesaikan.
Yuk produktif tanpa harus menyuruh orang lain :)
Sekian tulisan ini gua buat, sampai jumpa di blog berikutnya.
Terima kasih,


Tidak ada komentar