Indonesiaku Penuh dengan Tanda Tanya
Halo semuanya. Gimana kabarnya nih? semoga masih dalam keadaan sehat dan tetap semangat ya.
Sebagai perkenalan awal, buat yang belum kenal, perkenalkan nama saya Dicky Girsang dan sedang menyandang status mahasiswa. Dalam artikel ini, saya ingin membahas suatu topik yang berkaitan dengan toleransi dalam keberagmaan. Sebenarnya topik ini terkesan sudah familiar di masyarakat. Bedanya, artikel ini akan mengeruk isu-isu yang sering terjadi di lingkungan sekitar sekaligus solusi nyata untuk setiap permasalahannuya.
Selamat membaca...
![]() | |
| sumber : studiobelajar.com |
Indonesia dikenal sebagai negara yang multikultural. Bayangkan saja, negara kita terdiri lebih dari 17.000 pulau. Angka yang fantastis bukan? Setidaknya setiap pulau memiliki nilai khas masing-masing, seperti suku, adat istiadat, bahasa daerah, aneka jajanan tradisional, dan lain sebagainya. Maka, bukan sesuatu yang tidak mungkin ketika banyak turis yang memilih untuk menghabiskan waktu liburannya ke Indonesia. Faktor utamanya adalah negara kita cenderung tidak monoton. Jika ditinjau dari segi multikultural, jelas pemicunya adalah letak geografis, iklim, dan juga kondisi sosio-kultural Indonesia sendiri.
Keberagaman yang terkandung di Indonesia dapat dikategorikan dalam beberapa jenis seperti menurut wilayah, suku, agama, ras, golongan, umur, dan status sosial. Semuanya itu memberikan kesan Indonesia yang penuh dengan warna. Ketika semuanya terintegrasi dengan baik, Indonesia akan jauh dari kata perpecahan. Begitu pun terjadi sebaliknya. Seperti kata pepatah, "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga".
Pada dasarnya, kita semua termasuk orang-orang beruntung yang hidup dalam masyarakat yang plural. Keberagaman ini tidak serta merta merupakan hasil dari kerja keras pemerintah dalam menggalakkan setiap proker di masyarakat, tetapi murni pemberian Tuhan YME. Tidak ada sangkut paut pemerintah atau birokrasi terkait dalam proses terbentuknya ratusan suku bangsa, atau bahasa setiap daerah. Perspektif ini penting sebagai tolak ukur kita dalam mensyukuri setiap keberagaman yang terdapat di masyarakat.
Ditinjau dari aspek terkecilnya, dalam sebuah keberagaman pastinya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam pemikirannya, baik itu dalam menemukan suatu solusi, maupun ketika harus beropini di tengah publik. Menurut saya sendiri, hal itu bukanlah sesuatu yang klise dalam bermasyarakat. Ya meskipun demikian, tidak jarang kita harus menyaksikan sebuah perdebatan dengan ekspresi emosional antar-lawan bicaranya. Perkara satu dua hal, akan berlipat ganda hingga mencapai batas kesabaran maksimum. Benar, sebuah perkelahian. Itulah keberagaman, sulit dikritisi tapi terkesan indah.
Contoh konkret yang sering terjadi di Indonesia adalah perang antar-suku, terutama di daerah timur Indonesia. Dalam buku yang pernah saya baca, karangan Egy Massadiah yang mengangkat topik kiprah Doni Monardo (saat ini menjabat sebagai Kepala BNPB) dalam menjaga alam, terdapat sebuah cerita konflik antar-warga Mamala dan Morela, dua perkampungan berdekatan di Kecamatan Leihitu, Maluku. Bayangkan saja ketika dua kampung tersebut harus bertikai selama puluhan tahun lamanya sehingga tidak jarang saling bunuh secara tidak manusiawi terjadi. Bahkan, aparat keamaan setempat cenderung enggan "menyentuh" Mamala-Morela, sekalipun hanya sekadar melintas di kedua kampung tersebut.
Selain itu, masih banyak juga konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Faktor pemicunya beragam, seperti perselisihan sepihak, etnosentrisme (suatu golongan mengganggap dirinya benar), intoleran antarwarga, hingga bisikan orang ketiga. Pada prinsipnya, semua yang berasal dari dalam diri kita , akan kembali kepada diri kita sendiri. Hingga pada ujungnya, faktor-faktor tersebut akan menghasilkan disintegrasi pada masyarakat. Pihak mana yang diresahkan? pasti masyarakat dan juga pemerintah.
Toleransi. Poin ini harus kita highlight sebagai senjata dalam mencapai suatu bangsa yang utuh, dalam arti sebuah bangsa yang aman dan damai.
Kita asumsikan bahwa 'persatuan' adalah sebuah otak manusia dan 'cita-cita bangsa' sebagai sebuah gerakan tubuh. Ketika manusia tidak memiliki otak, tentu manusia tidak akan mampu melakukan gerakan apapun selain gaya batu (diam). Benar bukan? Akan tetapi, ketika manusia memiliki otak, semua gerakan akan dikontrol oleh kinerja otak. Secara biologis, otak terintegrasi dengan semua organ tubuh manusia sehingga apapun bentuk gerakan yang diinginkan, satu per satu akan terpenuhi.
Dalam aplikasinya, toleransi tidak melulu berbicara soal menghargai antarsesama. Masih banyak contoh tindakan lain yang menyiratkan sikap toleransi terhadap lingkungan yang plural, antara lain:
1. Konsepsi Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara merupakan cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam bermasyarakat. Pada hakekatnya, kehidupan dengan konsep wasantara akan berusaha dalam perwujudan nilai-nilai pancasila, termasuk nilai toleransi antarsesama. Nilai-nilai toleransi tersebut kemudian akan melahirkan sinergi dan kebersamaan di tengah masyarakat sehingga tercapai percepatan pembangunan dalam semua bidang.
Pada penerapannya, ide ini cenderung sulit untuk diaplikasikan secara merata di masyarakat. Akan tetapi, tidak ada usaha yang menghianati hasil. Ketika sinergi pentahelix (Pemerintah, akademisi, pengusaha, masyarakat/komunitas, dan media) terakomodir dengan baik, tentu output yang dihasilkan juga akan baik pula. Dimulai dari skala kecil, desa, kota, kabupaten, provinsi, hingga puncaknya secara nasional. Seiring berjalannya waktu, pola interaksi di masyarakat dapat diperbaiki hingga berubah menjadi sebuah kebiasaan yang positif.
2. Gengsi yang tak berarti
Dalam bertetangga, tidak jarang kita harus diperhadapkan dengan orang-orang yang skeptis terhadap terhadap orang lain yang tidak sederajat dengannya. Pandangannya adalah ketika harus bergaul dengan masyarakat yang 'tidak se-level' dengan mereka, otomatis gaya hidup-nya akan berubah menjadi lebih rendah. Padahal, realitanya masyarakat yang bergaul tanpa pandang bulu cenderung lebih lepas (senang) saat ingin keluar rumah. Secara tidak langsung, dia tidak memiliki beban apapun dengan tetangganya. Pada prinsipnya, hubungan positif tersebut akan menghasilkan output yang positif pula. Begitu juga sebaliknya.
Tidak hanya satu atau dua orang saja. Di lingkungan tempat tinggalku saat ini, banyak teman sebayaku yang memilih untuk bermain game di rumah, daripada bersosialisasi dengan tetangganya. Bahkan, beberapa orang ada yang tidak mengenal nama tetangga yang tinggal bersebelahan dengan rumahnya. Bagaimana dengan konsep toleransi tersebut? Apakah kita harus hidup berdampingan dengan rasa gengsi itu sendiri? Ingat, jangan sampai hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang berakar karena bisa menjadi sesuatu yang fatal di kemudian hari.
3. Enam agama, satu peduli
Indonesia terdiri dari 6 agama, diantaranya Protestan, Islam, Katholik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan beragam aliran lainnya. Dengan keberagaman tersebut, terkadang timbul selisih paham (pertentangan) antaragama. Namun, di balik itu semua, masih banyak terselip nilai toleransi yang dapat kita petik. Contoh konkret yang paling sering terjadi di masyarakat adalah buka puasa bersama yang diinisiasi oleh sebuah organisasi ataupun komunitas, acara tahun baruan bersama, dan lain sebagainya. Meskipun berbeda agama, toleransi menjadi sesuatu yang penting dalam satu tujuan yang sama yaitu persatuan dan kesatuan bangsa.
Kuncinya adalah open minded. Akan menjadi sesuatu yang percuma ketika pemerintah menggalakkan sosialisasi ataupun gerakan masyarakat (germas) jika masyarakatnya sendiri masih keras kepala.
4. Keberagaman sebagai Investasi
Kembali lagi pada poin toleransi. Masyarkat yang menanamkan nilai toleransi akan selalu menganggap bahwa setiap tindakannya tidak ada yang sia-sia. Ketika mindset seperti ini dipupuk secara kontinu, tentu nilai-nilai luhur pancasila akan menjadi bagian dari setiap masyarakat Indonesia. Ke depannya, toleransi akan berperan seolah-olah sebagai investasi masa depan. Bagaimana tidak. Dalam kaitannya, toleransi akan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap bangsanya sendiri sehingga kelak bisa mencapai tujuan/cita-cita bangsa yang sudah ditetapkan di awal.
"Bersatulah Indonesia, katakanlah damai senandungkan cinta", kutipan reff dalam lagu Indonesia Bersatu, ciptaan Samson.
Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba "Indonesia Baik" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini bit.ly/LombaIndonesiaBaikKBR


Tidak ada komentar