Pintar itu relatif kah?

1. Wahhh, pandai banget ya dia ngatur waktunya..
2. Hebat ya kamu, gimana sih caranya bisa berpikir sebaik kamu?
3. Kamu makan apa? kok bisa pintar banget ya....
4. Perfect banget deh. Idaman. Auto dikejar-kejar lawan jenis lo pasti..
5. Lo tidur berapa jam sih sehari? Waktumu untuk nonton film, chill, dll, ada gak sih?

Well, kata-kata di atas seakan menjadi bagian dari diri kita masing-masing. Maksud dari tulisan ini bukan untuk menyombongkan diri. Kalau lo berpikir sebaliknya, gua gak bisa maksain pemikiran lo sejalan dengan pikiran gua juga, terserah lo.

Masih mau lanjut membaca? atau sekarang malah merasa tersinggung?
Tentukan pilihan lo dari sekarang...

Baik, gua lanjut dulu...

Pintar? Gimana sih kriteria orang-orang yang tergolong "orang pintar"? Apakah status sarjana atau professor dapat dikategorikan sebagai bagian dari golongan orang-orang itu? atau mungkin lo menganggap bahwa orang-orang yang memilih untuk bekerja setelah tamat SMA, bukan termasuk golongan orang dengan pemikiran rasional? 

Gimana nih.. terjawab sudah?!

Sedikit menjengkelkan ketika gua pribadi mendengar pujian, "Hebat ya kamu, masih muda udah mau berpikir seperti itu". Well, asumsi orang lain atas pribadi gua, berada di luar kontrol gua pribadi. Meski ada orang yang acuh tak acuh akan hal itu, setidaknya akan lahir sedikit distraksi terhadap hari-hari gua.

Pada dasarnya, jangan sampai kita terlena akan hal tersebut. Di satu sisi, sebagian masyarakat menganggap hal itu gak akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka (bisa dikatakan sikap acuh tak acuh). Di sisi lain, mereka, orang-orang dengan tipe pemikir, bisa saja hari-harinya dihantui dengan "arti yang mendalam" dari kalimat tersebut. 

Siapa yang mau disalahkan? Pemberi argumen atau subjek tujuannya?

Fellexandro Ruby, seorang penulis buku yang sudah menemukan ikigai-nya, berhasil menyulap kejadian menarik dalam perjalanan karirnya sebagai pengusaha sekaligus "penjelajah" ke dalam sebuah buku yang berjudul "You do you". Ketika sampai di halaman pertama, gua merasa sedang berada dalam situasi alur cerita yang menuntun gua menemukan ikigai secepat mungkin lewat story kehidupannya. Tahap demi tahap dibungkus sebagus mungkin dengan selipan pandangan tokoh-tokoh terkenal, baik di dalam maupun luar negeri.

Satu hal yang klik, gua temukan dalam sub-bab "The story mindset". Ia mengatakan bahwa setiap hal bukan untuk mempertimbangkan benar atau salah, tetapi scene mana yang paling selaras dengannya. Sampai sekarang, terhitung dari artikel ini diterbitkan, gua pribadi masih digoyahkan dengan pilihan true/false ini. Pandangan gua terhadap seseorang lebih condong kepada personal values. Padahal, seharusnya pandangan seseorang terhadap orang lain harus berbasis pada objective values, bukan pada perspektif atau pandangan orang lain terhadap dirinya.

(lanjut baca buku "You do you", tulisan Fellexandro Ruby. Worth it banget buat ningkatin produktivitas hari-hari kita ke depan)

Sejauh ini, gua merasa bahwa pemikiran gua juga semakin rasional dengan kasus ini. "Terima kasih" akan menjadi respon frasa yang baik untuk setiap kalimat pujian itu. Memang ini hanyalah masalah kecil yang tidak memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan kita (note: ini personal values gua). Akan tetapi, ke depannya, tidak ada yang tau bahwa kalimat pujian itu bisa membawa motivasi baru ke dalam gaya-hidup kita, atau bisa saja malah membawa petaka. Tidak ada yang tau itu.

Apapun itu, bagaimanapun itu, tetap berpendirian teguh akan prinsip. Sama-sama kita membangun gaya hidup yang bukan bersandar pada penilaian orang lain terhadap kita, tetapi akan lebih baik ketika kita memberikan waktu untuk brainstorming sejenak akan hal itu.

Yuk produktif yuk..


Terima kasih buat teman-teman yang sudah berkunjung.
Sampai jumpa di lain waktu, di blog yang berbeda pula




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.