“Satu Tangan, Satu Komando”
Bangsa kita dikenal sebagai bangsa
yang “kaya” di mata dunia. Mulai dari sumber daya alam, populasi penduduk,
potensi sumber daya manusia, keberagaman budaya, dan lain sebagainya. Hal yang
wajar ketika sumber devisa negara utama bergantung pada bidang pariwisata.
Keunikan dan kekayaan itulah yang menjadi “magnet” tersendiri terhadap
wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia. Di sisi lain, banyak sektor yang
harus terbengkalai akibat pengembangan yang berfokus pada satu bidang saja.
Pada hakekatnya, potensi sumber daya alam Indonesia ini diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma, dalam arti bahwa tidak ada syarat dan ketentuan yang berlaku untuk mendapatkan potensi itu. Seperti analogi sebuah bumerang, ketika kita menggunakan sumber daya alam tersebut, pasti ada feedback yang kita terima. Saat fokus kita tertuju pada hal-hal positif yang pro terhadap pembangunan negeri, akan ada dampak positif setelahnya, seperti ruang yang lebih tertata, sistem pemerintahan yang merangkul, dan sebagainya. Akan tetapi, di saat mindset manusia ingin mengeksploitasi kekayaan alam tersebut, apa yang terjadi? Bencana alam, kelaparan, gejolak sakit penyakit, hingga kelumpuhan ekonomi global.
Sudah banyak tokoh pemerintah ataupun non-pemerintah yang menyerukan suara gotong royong. Terdapat juga papan reklame di jalanan yang mengajak masyarakat secara persuasif memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Banyak juga badan swasta yang sifatnya sebagai volunteer demi menjaga kelestarian ekosistem bumi, terutama di Indonesia. Ditambah dengan peran teknologi digital saat ini, demonstrasi secara massal dapat berjalan lebih efisien dengan segala kemudahan yang ada.
Terus, dimana letak kesalahan
ataupun kekurangan yang sebenarnya?
Apakah para pemegang kepentingan lingkungan harus menambah jam kerja mereka
demi mewujudkan lingkungan hidup yang ramah?
Jawabannya, tidak.
Kasarnya, masyarakat Indonesia saat ini sedang dalam keadaan “mati suri”. Manusia cenderung lebih ingin menggunakan daripada menciptakan. Manusia cenderung ingin hidup lebih nyaman, tidak ada usaha sama sekali, tetapi masih dalam keadaan sadar. Disinilah letak kejanggalan dari sebuah filosofi kehidupan yang sebenarnya. Personal waste management masyarakat Indonesia masih jauh dari kata "baik".
Contoh konkret yang sering terjadi dan terus berulang adalah bencana banjir. Satu penyebabnya adalah sampah. Keberadaannya ibarat nyamuk, mengusik, seakan ingin “membunuh secara perlahan”. Satu sisi kita berada dalam fase sadar akan pentingnya menjaga kualitas lingkugan hidup. Akan tetapi, di sisi lain, masyarakat berada dalam situasi sadar, tetapi masih saja membuang sampah itu sesuka hati. Apakah ini nyamuk yang sebenarnya?
Terlepas dari analogi nyamuk, banyak program yang dicanangkan dan sudah direalisasikan terkait dengan peduli lingkungan hidup, salah satunya adalah program “Citarum harum”, program yang diusung oleh Doni Monardo, saat ini menjabat sebagai Kepala BNPB dan merangkap menjadi Ketua Satgas Covid-19 Indonesia. Dalam buku karangan Egy Massadiah yang menceritakan perihal kiprah Doni Monardo dalam program tersebut, terdapat banyak titik terang yang bisa diambil dalam melakukan sebuah gebrakan emosional. Bayangkan saja, air sungai Citarum dikonsumsi 80 persen warga DKI Jakarta dan penduduk di sekitar aliran sungai sepanjang 269 kilometer, sedangkan di dalamnya tiap hari dipenuhi 3,3 juta ton tinja manusia ditambah 20 ribu ton sampah setiap harinya. Sungai yang sebenarnya hadir untuk memenuhi hajat hidup manusia, malah berbalik, tidak sesuai dengan tujuan awal. Alhasil, masalah tersebut kemudian dipetakan dan prajurit langsung turun ke lapangan untuk mendobrak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Hingga dalam jangka waktu 1 tahun, program citarum harum ini sudah mengakomodir banyak hal, baik dari sisi pembenahan legal structure (struktur hukum), maupun legal culture (struktur budaya), terutama dalam hal pengelolaan sampah. Hasil akhirnya, Presiden Jokowi pun menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum yang diterbitkan pada 14 Maret 2018.
Output dari sebuah kebijakan yang baik adalah hasil yang baik. Tentu, buah dari program Citarum harum tersebut sudah bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitarnya. Tidak hanya di beberapa bagian saja. Bahkan, dari hulu ke hilir, semuanya bersih tidak bernoda (hanya sebuah kiasan). Ketika kita memvisualisasikan diri di posisi tersebut, lahir apresiasi tersendiri bagi konsistensi yang sudah diberikan para pemangku kepentingan. Hanya perlu pembenahan cara mengkonsepsikan diri kita sebagai Extended Producer Responsibility Indonesia yang “tahu diri”.
Konsep “Satu tangan, Satu komando”
Semua bagian tubuh manusia mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, diakomodir oleh kehadiran ‘otak’ sebagai mediator seluruh gerakan tubuh. Tidak ada bagian tubuh yang dapat mengolah data dengan sendirinya tanpa adanya koordinasi dengan otak (kecuali gerakan yang dipengaruhi oleh lingkungan luar, seperti gerakan rambut saat ditiup angin).
Hal yang sama terjadi pada konsep “satu tangan satu komando” ini. Bukan berarti arti dari frasa ‘satu tangan’ di sini merujuk pada satu orang saja. Akan tetapi, satu-tangan diartikan sebagai kesadaran pribadi dalam memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar. Ketika otak kita menangkap perintah untuk berbuat baik, jangan pernah tolak itu. Sekali lagi, jangan.
Sebuah studi yang dilakukan di Stanford University menunjukkan bahwa interaksi dan hubungan dengan orang lain memiliki pengaruh yang besar pada perilaku positif kita. Hal ini telah banyak diperdebatkan oleh para peneliti, khususnya psikolog. Mereka mempertanyakan apakah seseorang dapat terlahir dengan kecenderungan untuk menolong orang lain. Namun, sebuah studi menemukan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh yang besar pada perilaku positif pada anak-anak. Mereka akan mengamati tindakan menolong tersebut dan menirunya.
Apakah kita menginginkan kondisi
alam yang hancur?
atau mungkin menginginkan keturunan yang tidak punya kesadaran berbuat baik
sama sekali?
Inilah konsep ‘satu tangan, satu komando’ itu. Ketika otak selalu diberikan stimulus positif, akan lahir semacam reward yang bentuknya positif juga. Tidak ada yang harus diperdebatkan dalam hal ini, dalam arti bahwa hal ini sudah mutlak sifatnya. Sadar akan hal kecil akan membantu kita dalam meraih kehidupan masyarakat yang aman, nyaman, dan tentram.
Hentikan stigma negatif bahwa sampah itu “mengganggu”. Waste Management Indonesia harus dimulai dari diri sendiri dan didorong secara door to door. Sampah akan selalu menjadi bagian dalam masyarakat, tidak bisa diganggu gugat. Sekarang, semunya tergantung pada respon kita akan hal itu.
Ingat selalu, Waste4change hadir di tengah masyarakat sebagai penyedia solusi bijak dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Waste4change sebagai perusahaan yang resmi berdiri pada tanggal 7 November 2014 telah banyak menjawab aspirasi masyarakat dalam membangun sistem manajemen sampah yang baik.
Gandeng setiap kesempatan yang ada,
demi sebuah perubahan yang nyata.
"Tulisan ini diikutsertakan
dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah
2021"
Nama penulis: Dicky Lihardo Girsang


Tidak ada komentar