Bertanya: Apa asumsi orang lain atas diriku?
Berasumsi mengenai orang lain adalah suatu kebabasan duniawi
yang masif terjadi di masyarakat. Seorang pengguna narkoba diasumsikan sebagai
orang dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Seorang koruptor digambarkan sebagai
orang dengan kepribadian yang tidak nasionalis. Seorang relawan adalah
deskripsi dari seorang yang rendah hati.
“Lalu, apa yang orang pikirkan tentang diriku ya?”
Cukup sering kita bingung dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak penting untuk ditanyakan. Gua percaya bahwasanya teman-teman yang mengunjungi artikel ini termasuk salah satunya. Beda cerita dengan orang lain di luar sana yang bahkan sama sekali tidak peduli dengan hidupnya. Biasanya mereka adalah orang-orang yang kehilangan harapan atau putus asa dengan masa depan. Mungkin itu depresi, kecemasan yang berlebihan, atau mungkin kekecewaan saat “dipaksa” untuk menerima kegagalan.
Sebenarnya, ada baik buruknya jika kita beranda-andai. Dari sisi positif, kita bisa mengoreksi setiap kebiasaan buruk yang mungkin akan membuat orang lain merasa risih/terganggu. Sisi negatifnya, kita akan berpikiran yang tidak-tidak tentang apa yang dipikirkan orang lain terhadap diri kita. Otomatis, semuanya itu akan berdampak pada gangguan mental/psikologis. Kita akan lebih posesif terhadap orang lain, takut untuk bergaul, cemas akan segala hal, atau mungkin harus diperhadapkan dengan penyakit yang menyerang organ vital, seperti otak.
Notabenenya, berasumsi mengenai asumsi orang lain terhadap diri kita adalah sesuatu yang keliru. Sangat jarang kita menemukan sisi baik dari itu semua. Bahkan, kalau bicara kemungkinan yang paling buruknya, bisa membuat kita merasa stress dan akhirnya stroke berkepanjangan.
Fyi, gua memilih topik ini karena gua masih berjuang dengan ini semua. Gua adalah tipikal orang yang sangat berambisi untuk menjadi pribadi yang paling baik di mata orang lain. Dulu, sebelum gua sadar akan kebiasaan buruk ini, gua sering banget menunjukan sikap-sikap proaktif di depan teman gua, tetapi berusaha untuk menutup setiap kebiasaan buruk itu. Entah apa yang gua pikirkan pada saat itu. Ya itulah kenyatannya. Berusaha untuk menjadi yang terbaik versi asumsi orang lain.
Gua punya satu pengalaman “pahit” yang selaras dengan topik ini. Jadi, awal mula gua mencoba untuk mendekati perempuan itu saat gua masih SMP. Di kelas 7, kami (gua dan calon doi) mulai dicomblang-comblangin sama teman-teman sekelas yang lain. Dari situ kemudian kami berdua menjadi perwakilan kelas untuk menjadi perwakilan kelas dalam lomba Fashion Show. Momennya saat itu adalah merayakan Kartini’s Day.
Nah, dari situ kemudian mulai akrab, ya meskipun tidak seintensif gaya PDKT tahun 2020an seperti sekarang. Fyi, sekolah kami saat itu hanya memperbolehkan siswanya membawa handphone yang bukan-smartphone. Di kelas 8, bersyukur bisa sekelas lagi. Pernah ada satu momen dimana dia (calon doi) ini kehilangan hp androidnya. Otomatis, kita berdua jadi agak sulit untuk chattingan dari Facebook. Gua ingat banget, tiap 2 kali seminggu, gua itu minta uang ke orang tua buat isi pulsa 20.000. Pulsanya itu gua pake sepenuhnya buat isi TM (fitur SMS unlimited itu). Gua juga pernah isiin pulsa dia (calon doi) ini, walaupun sebenarnya itu inisiatif gua pribadi aja.
Klimaksnya, gua coba buat beraniin diri untuk nembak dia dari SMS saat itu. Seperti yang dirasakan orang pada umumnya, besoknya datang ke sekolah pasti deg-degan. Gua selalu coba untuk menenangkan diri tuh. Gua pengen sahabat-sahabat gua gak ada yang tahu, istilahnya “backstreet relationship” gitu. Akan tetapi, perempuan ini malah curhat ke sahabat-sahabatnya dan akhirnya gua jadi bahan omongan satu kelas. Disitu gua merasa bahwa sebenarnya gua gak layak untuk dipermalukan di depan banyak orang. Gua sebagai laki-laki merasa tidak ada harga dirinya. Awalnya, gua berasumsi bahwasanya gua layak untuk “diterima” sebagai pacarnya, tetapi kenyataannya malah sebaliknya. Jedanya sekitar 1 mingguan dan dia bilang untuk menjadi sebatas teman.
Bisa disimpulkan bahwasanya asumsi orang lain terhadap diri kita adalah sesuatu yang berada di luar kontrol pribadi. Tidak perlu berkelakuan munafik di depan orang lain. Pelajaran yang sangat krusial dalam hidup adalah pengalaman. Gua percaya bahwasanya pengalaman inilah yang membawa gua sampai ke titik ini. Gua sadar bahwasanya kebiasaan ini tidak baik untuk diteruskan ke depan.
Titik balik inilah yang menjadi satu dari beberapa manfaat berasumsi mengenai apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. Kita bisa lebih mengenal kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita. Selain itu, kita juga bisa menjadi yang terbaik sesuai dengan kapabilitas yang kita miliki. Tidak perlu menunggu orang lain mengoreksi apa yang menjadi kesalahan kita, sepatutnya kita yang harus proaktif untuk mengenal jati diri kita yang sebenarnya.
Sebagai penutup, gua hanya ingin menyampaikan bahwasanya artikel ini hanya untuk berbagi pengalaman, bukan untuk menggurui atau bahkan menyindir pihak lain. Tidak ada yang harus disesali dari sebuah pengalaman, tetapi harus diakali untuk perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah berkunjung ...
Sampai jumpa di artikel berikutnya ...


Tidak ada komentar