Oprah Winfrey, Kacamata Inspirator Dunia
Oprah Winfrey adalah salah satu perempuan terkaya di dunia. Ia merupakan seorang artis Hollywood sekaligus pengusaha dan host di Amerika Serikat. Oprah dikenal masyarakat luas dengan acara talkshow-nya yang popular yaitu “The Oprah Winfrey”. Meski acaranya sudah mendunia, sebagian orang masih memandang Oprah sebagai orang yang terlahir kaya atau sebagai salah satu orang yang dilahirkan beruntung. Namun, kenyataanya ia meraih kesuksesan dengan penuh kerja keras dan harus menjalani pahitnya masa lalu.
Perempuan yang bernama asli Oprah Gail Winfrey ini lahir di Kosciusko, Mississippi, Amerika Serikat pada tanggal 29 Januari 1954. Ia dilahirkan oleh pasangan suami-istri Vernon Winfrey dan Vernita Lee. Ayahnya adalah seorang mantan serdadu yang beralih menjadi tukang cukur, sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga . Ia memiliki dua saudara perempuan dan satu saudara laki-laki yang masing-masing bernama Patricia Lee Lloyd, Patricia Loftan, dan Jefferey Lee.
Ketidakharmonisan yang terjadi di dalam keluarga Oprah ternyata berujung pada perceraian kedua orang tuanya. Kenyataan pahit saat itu memaksa ibunya untuk menitipkan Oprah kepada neneknya, Hattie Mae. Mereka tinggal di sebuah peternakan yang masih jauh dari berkecukupan. Saat tinggal disana, ia sering dibawa neneknya pergi ke gereja dan mulai aktif berbicara pada usia 3 tahun. Bakat alami public speaking yang dimiliki Oprah menjadikannya populer di perkumpulan gereja dengan julukannya sebagai “The Little Speaker” melalui pembacaan puisi dan ayat-ayat alkitab. Setelah berjalan 6 tahun, saat ibunya mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di Milawaukee, Wisconsin, Oprah dibawa kembali untuk tinggal seatap lagi dengan ibunya.
Di Milawaukee, ia harus tinggal dalam satu kamar bersama ibu dan dua saudara tirinya, laki-laki dan perempuan. Saat itu, kondisi ibunya telah menikah dan punya anak dari pasangan barunya. Situasi dan kondisi memaksa Oprah harus beradaptasi kembali dengan saudara-saudara tirinya yang tidak jarang menaruh pandangan cuek kepadanya. Ditambah lagi kondisi ibunya yang hampir tidak punya waktu untuk keluarganya. Setiap hari ibunya harus pergi pagi-pagi sekali dan pulang pada malam hari demi mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Sampai-sampai Oprah kabur dari rumah demi menarik perhatian ibunya. Namun, situasi ekonomi saat itu memaksa ibunya untuk tetap bekerja seharian penuh.
Tiga tahun berjalan tanpa kesan, di usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan seksual oleh saudara sepupunya sendiri. Tidak terjadi hanya sekali dua kali, ia mendapat pelecehan seksual dari teman-teman laki-laki ibunya yang silih berganti datang ke rumahnya. Hal ini membuat dirinya hancur dan merasa tidak punya harga diri lagi. Alhasil, Oprah justru makin terjerumus ke dalam dunia kelam. Ia suka mabuk-mabukan, menggunakan obat terlarang, dan hidup dalam pergaulan yang bebas. Hingga akhirnya, saat Oprah berusia 14 tahun, ia hamil dan mengandung seorang bayi perempuan. Di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk, Oprah harus mengangkat beban mental setiap harinya. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan, setelah dua minggu dilahirkan, bayinya meninggal dunia.
Meski dihantui rasa takut, Oprah memilih untuk tinggal dengan ayahnya di Nashville bersama ibu tirinya, Zelma, salah satu anggota terhormat di Tennesee. Pada masa itu, stereotip terhadap tentara adalah keras, tegas, disiplin, dan tempramen. Hal itu ternyata berlaku juga untuk ayah Oprah. Sang ayah tidak pernah menoleransi setiap tindakan negatif yang kontra terhadap pengajarannya. Di samping pekerjaan rumahnya dari sekolah, setiap minggu, ayahnya mewajibkan Oprah untuk membaca buku dan membuat ringkasannya secara keseluruhan. Awalnya, Oprah benci pada aturan tegas dan harapan tinggi mereka. Akan tetapi, kenyataanya justru itulah yang ia perlukan. Tidak sekadar aturan dan konsekuensi yang tegas, tetapi juga cinta dan perhatian dari ayahnya menjadi energi positif untuk dirinya menuju kehidupan yang lebih baik.
Perlahan-lahan Oprah berangkat dari masa lalunya yang kelam. Prestasi demi prestasi kemudian ia raih. Kehidupannya berubah 180 derajat hingga membawanya pada pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak disangka, Oprah berhasil menjadi salah satu siswi teladan dan berprestasi saat duduk di bangku SMA. Kecerdasannya ini mengantarkannya pada undangan untuk mewakili sekolah pada suatu konferensi di gedung putih dan ia berhasil mendapatkan beasiswa berkat pidatonya, Saat itu, ia menulis pidato yang berjudul "Orang Negro, Konstitusi dan Amerika Serikat".
Oprah dengan suara dan karisma yang dimiliki mencoba untuk melamar pekerjaan sebagai penyiar radio di stasiun lokal. Tak disangka, ia diterima dan mulai mengudara di usia 17 tahun. Bahkan, mereka membayarnya dengan nominal $100 per minggu yang tergolong cukup besar buat siswa sekolah menengah pada tahun 1970-an. Tidak hanya itu, di usia yang baru menginjak dewasa itu, ia menjadi pemenang dalam kontes kecantikan Miss Fire Protection berkat kemampuan bicaranya. Setelah dua tahun berjalan sebagai penyiar radio, Oprah Winfrey disambangi oleh sebuah stasiun televisi di Nashville. Ia bekerja sebagai wartawan sekaligus penyiar berita. Namanya juga menjadi sosok wanita kulit hitam pertama sebagai penyiar berita di stasiun televisi tersebut..
Pada tahun 1976, setelah ia menyelesaikan kelulusannya dari perguruan tinggi dengan gelar di bidang pidato dan drama, Oprah menjadi co-host di stasiun WJZ-TV bernama “Six O’Clock News” di Baltimore. Di tahun berikutnya, ia dipromosikan sebagai pemandu acara TV yang bernama "People Are Talking" dan berjalan selama 8 tahun. Tahun 1984, ia dipercayakan untuk membawakan acara bincang-bincang pagi yang bernama “A.M.Chicago”, acara berperingkat tinggi yang pernah ada. Tidak berakhir disitu, setahun berlalu, kemajuan dan popularitas nasional mengarahkannya pada debut film Steven Spielberg, “The Color Purple”, berperan sebagai Sofie. Tidak diduga, ia kemudian masuk ke dalam nominasi Best Supporting Actress dalam ajang Piala Oscar.
Di tahun yang sama, Oprah dengan senang hati mengganti nama acara TV-nya menjadi “The Oprah Winfrey Show”. Tidak butuh waktu lama, di tahun pertama, acara itu disiarkan secara internasional di 150 negara dengan jumlah penonton lebih dari 40 juta setiap minggunya. Alhasil, acaranya tersebut menjadi acara talkshow nomor satu dan mendapat penghargaan Emmy Awards dengan total 16 kali sebagai Best Talk Show sekaligus Best Talk Show Host. Meski tidak diraih secara berturut-turut setiap tahunnya, penghargaan tersebut sudah menjadi salah satu pencapaian terbesar pada masa itu. Hingga di tahun 1988, ia kemudian membentuk perusahaan produksinya sendiri, Harpo Studios. Langkahnya tersebut menjadikan namanya sebagai wanita ketiga dalam industri perfilman yang membangun studio pribadi setelah Mary Pickford dan Lucille Ball.
Pada tahun 1991, Presiden Bill Clinton menandatangani undang-undang “Oprah Bill” sebagai responnya terhadap perlakuan yang pernah dialami Oprah saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Apresiasi tersebut diberikan atas dasar kesaksian yang disampaikan Oprah di hadapan Komite Kehakiman Senat yang menganjurkan untuk mencari pelaku pelecehan anak. Kemudian, di tahun 1993, ia memenangkan Daytime Emmy Award untuk Outstanding Children’s Special, "ABC Afterschool Special: Shades of a Single Protein". Berangkat dari pencapaiannya terdahulu, ia juga kemudian dilantik menjadi Hall of Fame Akademi Televisi.
Karirnya dalam dunia televisi telah membawanya dalam segudang prestasi dan pencapaian yang luar biasa. Tahun 1996, ia berhasil memulai “Oprah’s Book Club” sebagai wadah/klub buku on-air. Dalam prosesnya, setiap buku yang dipilih kemudian didiskusikan dengan sekelompok orang terpilih di acara miliknya. Tak butuh waktu lama, setiap buku yang dipilih selalu naik ke puncak terlaris kala itu. Di tahun yang sama, ia juga kembali mendapatkan penghargaan medali emas dari Yayasan Masyarakat Radio & Televisi Internasional.
Prestasi dan penghargaan setiap tahunnya tidak pernah berhenti menghampiri karir Oprah. Di tahun 1997, ia mendapatkan penghargaan berbentuk apresiasi sebagai Television Performer of the Year (TV Guide) dan sebagai Most Important Person in Books and Media (Newsweek). Kemudian, tahun 1998, Oprah memperluas jangkauan medianya dengan mendirikan Oxygen Media sebagai jaringan televisi kabel untuk kaum wanita. Berdekatan dengan hal itu, ia kembali mendapatkan penghargaan tertingginya dari National Academy of Television Arts and Science. Di tahun berikutnya, ia memutuskan untuk melepaskan dirinya dari penghargaan Emmy Awards di masa depan dengan pertimbangan jumlah penghargaan yang sudah ia terima selama belasan tahun. Kemudian, di tahun 2000, majalah Oprah and Hearst memperkenalkan O, The Oprah Magazine, majalah bulanan yang dinobatkan sebagai peluncuran majalah paling sukses dalam sejarah terakhir dengan sirkulasi angka pembaca yang fantastis.
Sebagai pengakuan atas pencapaian dan kontribusinya, Oprah telah menerima banyak penghargaan, termasuk penghargaan paling bergengsi dan pengakuan industri tertinggi yang pernah ada. Secara sistematis, ia sekaligus talkshow-nya mendapatkan penghargaan sebagai kategori Bob Hope Humanitarian (2002), sebagai Hall of Fame kategori Broadcasting & Cable (2002), sebagai Global Humanitarian Action (2004) dari United Nations Association of the United States of America (UNA-USA), sebagai penerima penghargaan National Freedom (2005) dari National Civil Rights Museum (NCRM) , menjadi Hall of Fame (2005) dari badan nasional yang mendukung kemajuan orang berwarna, sebagai penerima penghargaan dari The Elie Wiesel Foundation for Humanity (2007), sebagai penerima Minerva Award dalam sebuah konferensi perempuan di California, dan masih banyak penghargaan lainnya. Di tahun 2004 dan 2011, namanya juga masuk dalam majalah Time sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di abad ke-20 dan menjadi satu-satunya orang yang masuk dalam list selama 8 tahun berturut-turut.
Tidak sekadar sebagai penerima penghargaan, Oprah juga dikenal sebagai pejuang kesetaraan ras dan gender kaum terbelakang. Lewat janjinya bersama Nelson Mandela pada kunjungan Desember 2000, Oprah kemudian mewujudkan komitmennya untuk membangun sekolah di Afrika Selatan. Pada tahun 2007, dia membuka sekolah senilai $40 juta untuk gadis-gadis yang kurang beruntung di daerah tersebut. Perjuangannya tidak hanya sampai disitu. Suara demi suara ia sampaikan secara blak-blakan untuk menyerukan hak kesetaraan gender. Berkorelasi dengan setiap aksinya, ia kembali menerima banyak penghargaan dari organisasi kemasyarakatan dan filantropi. Tahun 2010, ia dinobatkan sebagai penerima penghargaan Kennedy Center. Kemudian di tahun berikutnya, Oprah menerima penghargaan kemanusiaan Jean Hersholt dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Hingga puncaknya, ia menerima penghargaan seumur hidup Cecil B,DeMille Award di tahun 2018 sebagai seorang kontributor yang luar biasa dalam dunia entertainment.
Selain itu, perannya dalam dunia film juga menjadi salah satu pendobrak karirnya dalam dunia pertelevisian. Oprah dipuji atas penampilannya dalam film yang berjudul The Women of Brewster Place (1989), There Are No Children Here (1993), dan Before Women Had Wings (1997). Ia juga pernah berperan sebagai pengisi suara dalam film animasi, termasuk Charlotte’s Web (2006), Bee Movie (2007), The Princess and the Frog (2009), Lee Daniels’The Butler (2013), Selma (2014), dan film tentang Marthin Luther King Jr. Ia kemudian membintangi film TV HBO yang berjudul The Immortal Life of Henrietta Lacks (2017) dan berperan sebagai Mrs. dalam film adaptasi tahun 2018 yang ditarik dari novel fiksi ilmiah terkenal yang berjudul “A Wrinkle in Time” karya Madeleine L’Engle tahun 1962. Sungguh itu merupakan pencapaian yang luar biasa dalam perjalanan hidup Oprah.
Kisah yang disampaikan Oprah lewat lika-liku kehidupan yang ia jalani sangat layak untuk diapresiasi. Penghargaan demi penghargaan yang ia terima tidak semata-mata sebagai hasil usahanya selama ini. Akan tetapi, semua itu ia peroleh dari keberaniannya dalam menoleransi lingkungan tempat tinggalnya. Di sana, Oprah belajar bagaimana memaknai setiap kisah kehidupannya dengan segala peluh yang harus ia jalani setiap harinya. Dari kisah Oprah tersirat makna “jangan menyerah dan jangan berhenti berharap” untuk setiap manusia yang berani melangkah ke depan. Kelak, ucapan yang jujur dan simpatik akan mengantarkan kita pada sebuah perubahan dengan value yang positif.
“Be thankful for what you
have, you'll end up having more. If you concentrate on what you don't have, you
will never, ever have enough.” ~ Oprah Winfrey
Terima kasih dan sampai jumpa di blog selanjutnya..
See you....


Tidak ada komentar